Rabu, 22 September 2010

GANDARIA (FLORA IDENTITAS PROVINSI JAWA BARAT)

KANTUNG SEMAR (Nepenthes sp) TANAMAN DILINDUNGI YANG TERANCAM PUNAH

 Nepenthes gracilis asal Pulau Singkep yang Terancam Punah Karena Habitatnya akan dijadikan Kawasan Pertambangan



Genus Nepenthes (Kantong semar, bahasa Inggris: Tropical pitcher plant), yang termasuk dalam familia monotipik, terdiri dari 80-100 spesies, baik yang alami maupun hibrida. Genus ini merupakan tumbuhan karnivora di kawasan tropis Dunia Lama, kini meliputi negara Indonesia (55 spesies, 85%), Republik Rakyat Cina bagian selatan, Malaysia, Filipina, Madagaskar, Seychelles, Australia, Kaledonia Baru, India, dan Sri Lanka. Habitat dengan spesies terbanyak ialah di pulau Borneo dan Sumatra.

Tumbuhan ini dapat mencapai tinggi 15-20 m dengan cara memanjat tanaman lainnya. Pada ujung daun terdapat sulur yang dapat termodifikasi membentuk kantong, yaitu alat perangkap yang digunakan untuk memakan mangsanya (misalnya serangga, pacet, anak kodok) yang masuk ke dalam.

KANTONG SEMAR (Nepenthes sp.) DI HUTAN SUMATERA, TANAMAN UNIK YANG SEMAKIN LANGKA1)

Sumatera merupakan wilayah terbesar kedua dari penyebaran Nepenthes sp. setelah Kalimantan. Saat ini hanya beberapa jenis alami saja dari Nepenthes sp. yang ada di Sumatera yang telah teridentifikasi seperti: N. adnata, N. albomarginata, N. ampullaria, N. angasanensis, N. aristolochioides, N. bongso, N. gracilis, N. diata, N. dubia, N. custachia, N. inermis, N. jacavelineae, N. mirabilis, N. pactinata, N. raflesiana, N. reinwardtiana, N. spathulata, N. sumatrana, N. tobaica dan masih ada beberapa jenis lagi yang merupakan silangan alami. Habitat alami dari jenis Nepenthes sp. di Sumatera setiap tahunnya semakin terancam, baik oleh pembalakan liar, kebakaran hutan maupun konversi lahan hutan. Upaya penyelamatan dari ancaman kepunahan dilakukan melalui usaha konservasi, baik secara in-situ maupun ex-situ dengan mekanisme budidaya dan pemuliaan. 

Kata kunci : Nepenthes sp., Sumatera, konservasi

Nepenthes sp. merupakan tanaman unik dari hutan yang belakangan menjadi trend sebagai tanaman khas komersil di Indonesia. Di Sumatera sendiri, trend ini mulai berlangsung sejak tahun lalu dan semakin marak saat ini, karena bentuknya yang unik, sehingga tanaman ini mulai diperjualbelikan oleh masyarakat. Namun, kebanyakan yang diperjualbelikan khususnya di Sumatera masih merupakan Nepenthes sp. yang diambil langsung dari alam, bukan dari hasil penangkaran atau budidaya.

Hal tersebut sangatlah memprihatinkan mengingat habitat asli mereka terancam oleh kebakaran, pembalakan, pembukaan lahan, dan konversi lahan. Hutan Indonesia selama periode 1997-2000 mengalami laju pengurangan mencapai angka sekitar 2,84 juta ha/tahun atau sekitar 8,5 juta ha selama tiga tahun. Rekalkulasi penutupan lahan di Indonesia pada tahun 2005 yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan menunjukkan adanya peningkatan persentase penutupan lahan berhutan di Indonesia, tetapi penutupan tersebut tidak terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan (Anonimus, 2005). Artinya, lahan berhutan di Pulau Sumatera mengalami penurunan setiap tahunnya. Tentu saja kondisi hutan yang seperti ini turut mengancam keberadaan flora dan fauna yang ada di dalamnya.
Eksploitasi Nepenthes sp. dari alam untuk kepentingan ekonomi semata serta degradasi hutan yang mengancam habitat alami dari Nepenthes sp. memperburuk keberadaannya di alam. Oleh karena itu dirasa perlu diadakan kajian konservasi dari Nepenthes sp. khususnya di hutan Sumatera, baik penyebaran, morfologi, variasi jenis, habitat alami, pemanfaatan bahkan sampai pada ancaman terhadap populasinya serta strategi konservasi yang dapat diupayakan. Studi serta kajian keanekaragaman jenis Nepenthes sp. di Sumatera masih dirasa kurang bila dibandingkan dengan jenis vegetasi hutan lainnya. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan informasi mengenai kondisi Nepenthes sp. atau yang lebih dikenal dengan sebutan kantong semar khususnya di wilayah Sumatera, mengingat potensi ekonominya yang tinggi, namun upaya konservasinya kurang mendapat perhatian.

SEKELUMIT TENTANG KANTONG SEMAR (Nepenthes sp.)

Kantong semar atau dalam nama latinnya Nepenthes sp. pertama kali dikenalkan oleh J.P Breyne pada tahun 1689. Di Indonesia, sebutan untuk tumbuhan ini berbeda antara daerah satu dengan yang lain. Masyarakat di Riau mengenal tanaman ini dengan sebutan periuk monyet, di Jambi disebut dengan kantong beruk, di Bangka disebut dengan ketakung, sedangkan nama sorok raja mantri disematkan oleh masyarakat di Jawa Barat pada tanaman unik ini. Sementara di Kalimantan setiap suku memiliki istilah sendiri untuk menyebut Nepenthes sp. Suku Dayak Katingan menyebutnya sebagai ketupat napu, suku Dayak Bakumpai dengan telep ujung, sedangkan suku Dayak Tunjung menyebutnya dengan selo bengongong yang artinya sarang serangga (Mansur, 2006).

Sampai dengan saat ini tercatat terdapat 103 jenis kantong semar yang sudah dipublikasikan (Firstantinovi dan Karjono, 2006). Tumbuhan ini diklasifikasikan sebagai tumbuhan karnivora karena memangsa serangga. Kemampuannya itu disebabkan oleh adanya organ berbentuk kantong yang menjulur dari ujung daunnya. Organ itu disebut pitcher atau kantong. Kemampuannya yang unik dan asalnyayang dari negara tropis itu menjadikan kantong semar sebagai tanaman hias pilihan yang eksotis di Jepang, Eropa, Amerika dan Australia. Sayangnya, di negaranya sendiri justru tak banyak yang mengenal dan memanfaatkannya (Witarto, 2006).

Selain kemampuannya dalam menjebak serangga, keunikan lain dari tanaman ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Secara keseluruhan, tumbuhan ini memiliki lima bentuk kantong, yaitu bentuk tempayan, bulat telur/oval, silinder, corong, dan pinggang.

Penyebaran

Kantong semar tumbuh dan tersebar mulai dari Australia bagian utara, Asia Tenggara, hingga Cina bagian Selatan. Indonesia sendiri memiliki Pulau Kalimantan dan Sumatera sebagai surga habitat tanaman ini. Dari 64 jenis yang hidup di Indonesia, 32 jenis diketahui terdapat di Borneo (Kalimantan, Serawak, Sabah, dan Brunei) sebagai pusat penyebaran kantong semar. Pulau Sumatera menempati urutan kedua dengan 29 jenis yang sudah berhasil diidentifikasi.

Keragaman jenis kantong semar di pulau lainnya belum diketahui secara pasti. Namun berdasarkan hasil penelusuran spesimen herbarium di Herbarium Bogoriense, Bogor, ditemukan bahwa di Sulawesi minimum sepuluh jenis, Papua sembilan jenis, Maluku empat jenis, dan Jawa dua jenis (Mansur, 2006).

Habitat

Kantong semar hidup di tempat-tempat terbuka atau agak terlindung di habitat yang miskin unsur hara dan memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Tanaman ini bisa hidup di hutan hujan tropik dataran rendah, hutan pegunungan, hutan gambut, hutan kerangas, gunung kapur, dan padang savana. Berdasarkanketinggian tempat tumbuhnya, kantong semar dibagi menjadi tiga kelompok yaitu
kantong semar dataran rendah, menengah, dan dataran tinggi.

Karakter dan sifat kantong semar berbeda pada tiap habitat. Beberapa jenis kantong semar yang hidup di habitat hutan hujan tropik dataran rendah dan hutan pegunungan bersifat epifit, yaitu menempel pada batang atau cabang pohon lain. Pada habitat yang cukup ekstrim seperti di hutan kerangas yang suhunya bisa mencapai 30ยบ C pada siang hari, kantong semar beradaptasi dengan daun yang tebal untuk menekan penguapan air dari daun. Sementara kantong semar di daerah savana umumnya hidup terestrial, tumbuh tegak dan memiliki panjang batang kurang dari 2 m.

Status Perlindungan

Status tanaman kantong semar termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Pemerintah No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Hal ini sejalan dengan regulasi Convention on International Trade in Endangered Species (CITES), dari 103 spesies kantong semar di dunia yang sudah dipublikasikan, 2 jenis: N. rajah dan N. khasiana masuk dalam kategori Appendix-1. Sisanya berada dalam kategori Appendix-2. Itu berarti segala bentuk kegiatan perdagangan sangat dibatasi.  

Potensi

Kantong semar memang belum sepopuler tanaman hias lainnya seperti anggrek, dan aglaonema. Namun, saat ini kepopuleran kantong semar sebagai tanaman hias yang unik semakin meningkat seiring dengan minat masyarakat pecinta tanaman hias untuk menangkarkannya. Nama tanaman dari famili Nepenthaceae ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan di negaranegara seperti Australia, Eropa, Amerika, Jepang, Malaysia, Thailand, dan Sri Lanka budidaya tanaman ini sudah berkembang menjadi skala industri. Ironisnya, tanamanan pemakan serangga ini kebanyakan jenisnya berasal dari Indonesia. 

Selain berpotensi sebagai tanaman hias, kantong semar juga dapat digunakan sebagai obat tradisional (Mansur, 2006). Sementara itu, kandungan protein di dalam kantongnya berpotensi untuk pengembangan bertani protein menggunakan tanaman endemik Indonesia (Witarto, 2006). Dalam penelitiannya baru-baru ini, Witarto (2006), berhasil mengisolasi protein dalam cairan kantong atas dan kantong bawah dari N. gymnamphora dari Taman Nasional Gunung Halimun. Dari masing-masing 800 ml cairan yang dikumpulkan dari kantong, dapat dimurnikan protein sebanyak 1 ml. Uji aktivitas terhadap protein yang telah dimurnikan menunjukkan bahwa protein itu adalah enzim protease yang kemungkinan besar adalah Nepenthesin I dan Nepenthesin II.

Nepenthes sp. DI SUMATERA

Sumatera merupakan urutan kedua setelah Kalimantan sebagai tempat penyebaran spesies, tapi dari segi jumlah populasi Sumatera dapat mengimbangi Kalimantan. Dari jenis-jenis yang sudah ditemukan di Sumatera, 12 di antaranya masih dalam proses identifikasi  Anonimus, 2006). Semua jenis Nepenthes sp. yang ada di Sumatera tersebar dari dataran rendah sampai ke dataran tinggi.

Kantong semar (Nepenthes sp.) di Sumatera memiliki beberapa sebutan seperti periuk monyet di Riau, kantong beruk di Jambi, dan Ketakung atau calong beruk di Bangka. Bahkan di Gunung Kerinci (Sumatera Barat) ada sebutan terompet gunung untuk jenis Nepenthes aristolochioides. Pada awalnya, Nepenthes sp. di Sumatera sangat mudah ditemukan di hampir seluruh tipe hutan dan tersebar hampir merata di setiap provinsi, kecuali untuk jenis endemik tertentu. Akan tetapi, sekarang sudah mulai sulit dijumpai, kecuali di daerah tertentu.

Nepenthes gracilis, salah satu jenis nepenthes yang ditemukan di Hutan
Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan
(Sumber foto : Adi)


Berikut ini adalah jenis-jenis Nepenthes sp. di Sumatera yang telah teridentifikasi (Mansur, 2006), baik spesies alami maupun jenis silang alaminya :

1.  Nepenthes adnata Tamin dan M. Hotta ex Schlauer
     Silang alami : Belum diketahui
     Habitat        : Hutan dataran rendah (600-1.100 m dpl)
     Status          : Kritis
     Saat ini penyebaranya baru diketahui hanya di Sumatera Barat. Hidup di tempat-tempat terlindung
     dengan kelembaban cukup tinggi pada substrat lumut dan berbatu pasir. Jenis ini memiliki kemiripan
     dengan N. tentaculata.

2.  Nepenthes albomarginata T.Lobb ex Lindl
     Varietas       : villosa, typica, tomentolla dan cubra
     Silang alami : dengan N. ampullaria, N. clipeata, N. hirsuta, N. northiana, N. reinwardtiana,
                           N. vietchii, N. custadhya
     Habitat        : Hutan kerangas dataran rendah, puncak bukit dengan ve-getasi terbuka di tanah kapur
                           atau tanah berpasir. Tersebar
                           pada ketinggian 0-1.100 m dpl.
     Status          : Terkikis

3.  Nepenthes ampullaria Jack
     Varietas       : geelvinkeana, microsepala dan racemosa
     Silang alami : dengan N. albomarginata, N. bicalcarata, N. gracilis, N. rafflesiana, N. hirsuta,
                           N. mirabilis, N. reinwardtiana dan N.tobaica.
     Habitat        : Hutan kerangas, hutan rawa gambut, hutan rawa, pinggir sungai, sawah, dan
                           semak belukar. 
                           Umumnya hidup di tempat-tempat terbuka, lapangan luas, tanah-tanah basah.
                           Jenis ini tersebar pada ketinggian  0-1.100 m dpl.
     Status           : Terkikis

4.  Nepenthes angasanensis Maulder, D. Schula, B. Salman dan B. Quinn
     Silang alami : dengan N. densiflora
     Habitat        : Terestrial atau efifit di hutan lumut (2.200-2.800 m dpl)
     Status          : Rawan

5.  Nepenthes aristolochioides Jebb dan Cheak
     Silang alami : dengan N. singalana
     Habitat        : Terestrial atau efifit di hutan lumut pada punggung-pung-gung bukit yang terjal
                            pada ketinggian 2.000-2.500 m dpl.
     Status          : Kritis
     Jenis ini merupakan jenis endemik di Jambi

6.  Nepenthes bongso Korth
     Silang alami : dengan N. singalana dan N. talangensis
     Habitat        : Hutan dataran rendah dan dataran tinggi (1.000-2.700 m dpl)
     Status          : Terkikis
     Jenis ini ditemukan di Jambi, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Umum-nya hidup sebagai
     efifit di hutan pegunungan dataran rendah yang berlumut. Kata bongso diambil dari nama kawah
     bongso Gunung Merapi (tempat pertama kali jenis ini dikoleksi oleh Korthals).

7.  Nepenthes diata Jebb dan Cheek
     Silang alami : dengan N. mikei
     Habitat        : Hutan lumut dan hutan pegunungan dataran tinggi pada ketinggian 2.400-2.900 m dpl.
     Status          : Genting
     Jenis dataran tinggi ini ditemukan di Gunung Bandahara, Aceh. Memiliki hubungan dekat dengan
     N. singalana.

8.  Nepenthes dubia Danser
     Silang alami : dengan N. singalana
     Habitat        : Hutan pegunungan dataran rendah dan dataran tinggi (1.000-2.700 m dpl)
     Status          : Kritis
     Jenis ini banyak ditemukan di Sumatera Barat, memiliki bentuk kantong yang unik (seperti
     kloset duduk). N. dubia memiliki hubungan dekat dengan N. inermis yang memiliki bentuk
     kantong hampir serupa. Umumnya hidup sebagai efifit pada tajuk-tajuk pohon dihutan
     lumut atau terestrial di semak-semak tempat terbuka.

9.  Nepenthes custachya Miq
     Silang alami : dengan N. albomarginata, N. longifolia, dan N. sumatrana
     Habitat        : Bukit-bukit yang terjal dan terbuka pada substrat tanah berbatu pasir pada
                           ketinggian (0-1.600 m dpl)
     Status          : Terkikis
     Jenis yang tergolong endemik Sumatera ini memiliki bentuk kantong atas dan bawah hampir
     sama dan tidak memiliki sayap. Jenis ini  mirip dengan N. alata dari Filipina.

 10. Nepenthes gracilis Korth
      Silang alami : dengan N. ampullaria, N. mirabilis, N. rafflesiana, dan N. reinwardthiana
      Habitat        : Hutan dataran rendah, hutan rawa gambut, hutan kera-ngas, vegetasi pinggir
                            sungai pada ketinggian 0-1.100 m dpl)
      Status          : Terkikis
      Jenis ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang lebih tinggi dibanding
      jenis lainnya. Mampu hidup di berbagai habitat dan jenis tanah. Oleh karena itu, jenis ini
      memiliki daerah penyebaran yang cukup luas.

11. Nepenthes inermis Danser
      Silang alami : dengan N. spathulata, N. talangensis
      Habitat        : Efifit di hutan lumut, terestrial di hutan pegunungan da-taran tinggi
                            (1.500-2.600 m dpl)
      Status          : Terkikis
      Jenis ini termasuk jenis endemik Sumatera. Memiliki bantuk kantong yang mirip
      dengan N. dubia. Kantong roset dan kantong bawah jarang ada.

12. Nepenthes jacqvelineae C. Clorke, T. Davis dan Tamin
      Silang alami : Belum diketahui
      Habitat        : Efifit atau terestrial di hutan lumut (1.700-2.200 m dpl)
      Status          : Belum diketahui
      Jenis ini baru ditemukan pada tahun 2000 oleh T. Davis. Merupakan jenis endemik
      Sumatera dan baru diketahui penyebarannya di
      Sumatera Barat dan memiliki hubungan dekat dengan N. inermis.

13. Nepenthes mirabilis (Lour) Druce
      Silang alami : dengan N. ampullaria, N. bicalcarata, N. gracilis, N. fafflesiana, dan N. spathulata
      Habitat        : Hidup di tempat-tempat terbuka pada tebing-tebing di pinggir jalan,
                            pinggir sungai, pinggir hutan sekunder, pinggir danau. Pada umumnya tumbuh
                            di tanah podsolik merah. Penyebarannya pada ketinggian 0-1.500 m dpl, tetapi
                            umumnya pada ketinggian di bawah 500 m dpl.
      Status          : Terkikis
      Jenis ini memiliki daya adaptasi lebih tinggi daripada N. gracilis dan jenis lainnya. Oleh karena itu,
      jenis ini dapat hidup di berbagai habitat pada tempat-tempat yang basah maupun kering.
      Jenis ini menyebar luas di Asia Tenggara.

14. Nepenthes pectinata Danser
      Silang alami : Belum diketahui
      Habitat        : Hutan dataran tinggi, hutan lumut (950-2.750 m dpl)
      Status          : Terkikis

15. Nepenthes rafflesiana Jack
      Varietas       : alata, ambigua, elongate, glaberrina, insignis, minor, nigcopurpurea, nivea, dan typical
      Silang alami : dengan N. ampullaria, N. bicalcurata, N. gracilis, N. mirabilis
      Habitat        : Tumbuh di tempat-tempat terbuka atau pun ternaungi yang basah atau kering seperti
                            hutan rawa gambut dan hutan kerangas (0-1.200 m dpl)
      Status          : Terkikis
      Di antara marga Nepenthes, jenis ini memiliki ukuran kantong cukup besar, kantong bawah dapat
      menampung air hingga satu liter.

16. Nepenthes reinwardtiana Miq
      Varietas       : samarindensis
      Silang alami : dengan N. albomarginata, N. ampullaria, N. gracilis, N. spathulata, N. tobaica,
                            N. sterophylla, N. hispida, N. makrovulgaris.
      Habitat        : Hutan rawa gambut, hutan kerangas, hutan dataran rendah, hutan lumut,
                            (0-2.100 m dpl)
      Status          : Terkikis
      Dua spot mata di dalam dinding kantong di bawah permukaan mulut kantong merupakan
      ciri utama dari jenis ini. Namun tidak semua kantong memiliki dua spot mata.

17. Nepenthes spathulata Danser
      Silang alami : dengan N. inermis, N. mirabilis, N. reinwardtiana, N. tobaica
      Habitat        : Hidup efifit atau terestrial di hutan lumut dan hutan pegunungan dataran tinggi
                            (1.100-2.900 m dpl)
      Status          : Kritis
      Jenis ini mirip dengan N. singalana. Penyebarannya cukup luas di hutan pegunungan dataran
      rendah di Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi.

18. Nepenthes sumatrana (Miq) Beck
      Silang alami : dengan N. custochya
      Habitat        : Dataran rendah pada tanah berbatu pasir (0-800 m dpl)
      Status          : Kritis
      Jenis ini ditemukan di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Jambi. Hidup terestrial di tempat
      yang ternaungi pada hutan dataran rendah dengan substrat tanah berbatu pasir.
      Sering dijumpai sampai di tajuk pohon.

19. Nepenthes tobaica Denser
      Silang alami : dengan N. ampullaria, N. reinwardtiana, N. spathulata
      Habitat        : Hutan pegunungan (380-2.750 m dpl)
      Status          : Terkikis
      Kata tobaica diambil dari nama danau Toba di Sumatera Utara yang merupakan tempat
      pertama kali ditemukan.

20. Nepenthes xhooveriana
      Jenis ini merupakan silangan alami dari N. ampullaria dan N. rafflesiana.
      Kantong bawahnya mirip dengan N. ampullaria tetapi
      penutup kantong bawanhnya mirip dengan N. rafflesiana.

21. Nepenthes xtrichocarpa
      Jenis ini merupakan hasil silangan antara N. ampullaria dengan N. gracilis.
      Bentuk dan ukuran kantong mirip dengan N. gracilis tetapi
      bentuk mulut dan bibir mirip N. ampullaria.

22. Nepenthes xneglecta
      Jenis ini merupakan silangan alami dari N. gracilis dengan N. mirabilis.
      Umumnya bentuk kantong mirip dengan N. gracilis tetapi
      kurannya lebih besar. Ukuran daun lebih panjang daripada N. gracilis,
      pinggiran daun tidak berbulu/bergigi. Bentuk batang silindris
      tidak seperti N. gracilis yang memiliki bentuk batang segitiga.

Sebenarnya masih banyak lagi jenis silangan alami lainnya. Sekitar 71 jenis silangan alami yang telah ditemukan di Sumatera, Semenanjung Malaysia, dan Borneo (Mansur, 2006), tapi hanya tiga jenis saja yang populer di Sumatera (N. xhooveriana, N. xtrichocarpa, dan N. xneglecta).


Nepenthes sp. DI PULAU SINGKEP

Hasil penelitian awal di Pulau Singkep dijumpai dua jenis Nepenthes yaitu Nepenthes gracilis dan variannya Nepenthes sumatrana, tumbuh di berbagai habitat mulai lahan semak belukar dan hutan rawa gambut di dataran rendah sampai perbukitan. Karena habitatnya yang memadai penyebara Nepenthes sumatrana begitu meluas yang menghampar di lantai hutan hingga merayap di tajuk-tajuk pohon.


Nepenthes gracilis berwarna hijau endemik Pulau Singkep


Nepenthes gracilis berwarna coklat endemik Pulau Singkep
Nepenthes sumatrana  endemik Pulau Singkep
Nepenthes sumatrana  endemik Pulau Singkep

Nepenthes sumatrana  endemik Pulau Singkep
Nepenthes sumatrana  endemik Pulau Singkep
Keberadaannya saat ini cukup baik karena kebanyakan masyarakat di Pulau Singkep bermatapencaharian sebagai nelayan sehingga akses pembukaan lahan hutan relatif terbatas, namun akhir-akhir ini sejalan dengan maraknya investor pertambangan bijih besi, bijih bauksit dan bijih timah serta perkebunan yang masuk ke wilayah ini .... keberadaan habitat Nepenthes menjadi sangat menghawatirkan. Pembukaan hutan oleh masyarakat demikian intensif terutama di wilayah KP Eksplorasi Perusahaan pertambangan dan akan menjadi-jadi manakala kegiatan pertambangan berlangsung yang berdasarkan wilayah KP Eksplorasi yang ada hampir meliput seluruh wilayah Pulau Seingkep.


Beginilah Habitat Nepenthes sp berupa Hutan Hujan Tropis Pulau Kecil Singkep 
Dibuka dan Dibakar Untuk Perkebunan Karet


Beginilah Habitat Nepenthes sp berupa Hutan Hujan Tropis Pulau Kecil Singkep 
Dibuka dan Dibakar Untuk Area Pertambangan Bijih Besi


 

Beginilah Habitat Nepenthes sp berupa Hutan Hujan Tropis Pulau Kecil Singkep 
Dibuka dan Dibakar Untuk Area Pertambangan Bijih Besi


ANCAMAN

Berdasarkan pengamatan di lapangan dan kajian literatur, potensi ancaman terhadap kelangsungan hidup Nepenthes sp. di Sumatera lebih banyak berasal dari gangguan manusia. Aktivitas masyarakat di sekitar habitat alami yang dapat mengganggu keberadaan Nepenthes sp. antara lain berupa kegiatan mencari kayu meskipun secara tidak langsung dapat mengganggu Nepenthes sp. karena dapat tertimpa pohon yang ditebang atau tercabut secara tidak sengaja, sertakemungkinan tanaman mati karena ingan tempat tanaman ini terpotong/ditebang (Kunarso dan Fatahul A., 2006).

Selain aktivitas tersebut, pola pembukaan ladang dengan sistem sonor (dibakar) yang umum dilakukan di Sumatera juga dapat mengganggu kehidupan Nepenthes sp. di habitat alaminya. Pembukaan lahan atau konversi hutan dalam skala kecil maupun besar dengan cara tradisional maupun modern yang dilakukan oleh masyarakat maupun perusahaan juga mengancam keberadaan jenis ini dan
jenis flora lainnya.

Ancaman terbaru yang masuk belakangan ini adalah pengeksploitasian terhadap Nepenthes sp. oleh masyarakat untuk kepentingan bisnis. Eksploitasi yang tidak memperhatikan kaidah ekologi-konservasi tentu akan mempercepat kepunahan Nepenthes sp. di habitat alaminya. Banyak pedagang di Sumatera yang menjual jenis ini yang bukan dari hasil tangkaran atau budidaya tetapi dari hasil cabutan alam. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pedagang, pada umumnya para pedagang ini tidak mengetahui status Nepenthes sp. yang mereka jual. Mereka hanya mengambil langsung dari alam dan menjualnya dengan harga murah sekitar Rp 25.000,- sampai Rp 100.000,- /tanaman, bahkan ada yang menjual Rp 10.000,-/tanaman yang diambil dari habitat alaminya (sistem pesan banyak tanpa pot). Hal ini sangatlah memprihatinkan mengingat populasi Nepenthes sp. di alam yang sudah semakin sedikit.

Sementara itu bahaya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi hampir setiap tahun juga menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup dari Nepenthes sp., khususnya jenis yang ada di hutan rawa gambut karena tipe hutan seperti ini sangat rawan terhadap kebakaran. Kebakaran pada lahan rawa gambut tergolong dalam tipe kebakaran bawah (ground fire). Nugroho et al. (2005) menyatakan bahwa pada kebakaran dengan tipe ground fire, api menyebar tidak menentu secara perlahan di bawah permukaan karena tidak dipengaruhi oleh angin. Tipe kebakaran seperti ini mengancam akar-akar vegetasi yang ada di atasnya dan dapat menyebabkan kematian vegetasi tersebut.

UPAYA KONSERVASI

Populasi kantong semar di alam diprediksikan akan terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal di antaranya : kebakaran hutan, penebangan kayu secara eksploitatif, pengembangan pemukiman, pertanian, perkebunan dan pertambangan serta eksploitasi yang berlebihan untuk tujuan komersil (Mansur, 2006). Hutan rawa gambut di Sumatera dan Kalimantan sebagai salah satu habitat alami kantong semar, hampir setiap tahun mengalami kebakaran. Konversi lahan hutan untuk pengembangan pemukiman, pertanian, perkebunan dan pertambangan menjadi suatu hal yang harus dilakukan seiring dengan semakin bertambahnya populasi penduduk. Hal ini pulalah yang ditengarai sebagai penyebab makin berkurangnya habitat kantong semar di alam.

Apabila hal ini terus menerus dibiarkan tanpa adanya upaya penyelamatan ancaman kepunahan kantong semar di alam tinggal menunggu waktunya. Untuk itu diperlukan usaha konservasi, baik in-situ maupun ex-situ dengan cara budidaya dan pemuliaan.

Konservasi in-situ merupakan upaya pengawetan jenis tumbuhan dan satwa liar di dalam kawasan suaka alam yang dilakukan dengan jalan membiarkan agar populasinya tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. Upaya konservasi in-situ ini dikatakan paling  efektif, karena perlindungan dilakukan di dalam habitataslinya, sehingga tidak diperlukan lagi proses adaptasi bagi kehidupan dari jenis tumbuhan dan satwa liar tersebut ke tempat yang baru (Nurhadi, 2001 dalam Sudarmadji, 2002). Namun demikian, suatu kelemahan akan terjadi jika suatu jenis yang dikonservasi secara in-situ tersebut memiliki penyebaran yang sempit; kemudian tanpa diketahui terjadi perubahan habitat, maka akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup jenis tersebut; begitu pula jika di daerah tersebut terjadi bencana atau kebakaran, dapat dipastikan seluruh jenis yang terdapat di dalamnya akan terancam musnah dan tidak ada yang dapat dicadangkan lagi. Oleh karena itu, selain upaya konservasi in-situ perlu dilengkapi dengan upaya konservasi ex-situ (Nurhadi, 2001 dalam Sudarmadji, 2002).

Upaya konservasi ex-situ merupakan upaya pengawetan jenis di luar kawasan yang dlakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa liar. Kegiatan konservasi ex-situ ini dilakukan untuk menghindari adanya kepunahan suatu jenis. Hal ini perlu dilakukan mengingat terjadinya berbagai tekanan terhadap populasi maupun habitatnya (Nurhadi, 2001 dalam Sudarmadji, 2002). Hal lain yang tidak kalah penting ialah penyebarluasan informasi mengenai Nepenthes sp. itu sendiri kepada masyarakat umum agar mereka mengetahui keberadaan populasi, status jenis, dan status hukum yang melindungi tanaman dari kepunahan. Upaya ini harus disertai dengan disiplin tinggi dari penerapan hukum bagi ancaman-ancaman yang ada terhadap kelangsungan hidup Nepenthes sp.

PENUTUP

Lahan hutan di Sumatera, memiliki kekayaan berupa keanekaragaman hayati yang berpotensi untuk dikembangkan, baik secara ekologis maupun ekonomis. Salah satu potensi yang ada adalah keberadaan Nepenthes sp. yang merupakan tanaman unik dan dilindungi keberadaannya. Nepenthes sp. belakangan ini semakin diminati sebagai tanaman hias komersil oleh masyarakat. Selain itu tumbuhan Nepenthes sp. juga dapat digunakan sebagai tanaman obat. Karena potensinya tersebut, tumbuhan ini justru menjadi terancam keberadaannya akibat eksploitasi oleh orang-orang yang ingin mengejar profit dengan menjualnya sebagai tanaman hias tanpa memperhatikan kelestarian ekologisnya. Selain itu, konversi lahan hutan di Sumatera, kebakaran hutan dan perambahan liar juga turut menambah ancaman keberadaan tumbuhan unik ini di habitat aslinya.

Keberadaan Nepenthes sp. di hutan Sumatera semakin terancam keberadaannya dari tahun ke tahun. Untuk mencegah hal itu terjadi, perlu upaya konservasi, baik secara in-situ mapun ex-situ yang harus segera dilakukan. Selain itu perlu diadakan studi dan penelitian lebih lanjut mengenai Nepenthes sp. yang ada di hutan Sumatera untuk kemudian dipublikasikan kepada stakeholders terkait khususnya kepada masyarakat luas agar menyadari pentingnya keberadaan Nepenthes sp., baik dari sisi ekologis maupun ekonomisnya. Dengan upaya tersebut diharapkan mereka dapat berpartisipasi dalam menjaga kelestarian hutan dan kenakeragaman hayati yang ada di dalamnya.



DAFTAR PUSTAKA
Anonimus. 2005. Buku : Rekalkulasi Penutupan Lahan Indonesia Tahun 2005.
Departemen Kehutanan RI. http : // www.dephut.go.id.
Anonimus. 2006. Nepenthes. Wikipedia, the Free Encyclopedia. http //www.wikipedia.com.
Firstantinovi, E.S. dan Karjono. 2006. ”Kami Justru Mendorong...”. Artikel Majalah Trubus Edisi 444 November 2006/XXXVII. Hal 21.
Kunarso, A., Fatahul A. 2006. Nepenthes gracilis di Lahan Rawa Gambut Pedamaran, Tanaman Unik yang Semakin Terancam. Balai Litbang Hutan Tanaman Palembang. Departemen Kehutanan (dalam proses publikasi).
Mansur, M. 2006. Nepenthes, Kantong Semar yang Unik. Penebar Swadaya. Jakarta
Nugroho A., W.C., IN.N Suryadiputra, Bambang Hero Saharjo dan Labueni Siboro. 2005. Panduan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut. Proyek Climate Change, Forest and Peatlands in Indonesia. Wetlands International– Indonesia Programme dan Wildlife Habitat Canada. Bogor.
Sudarmadji. 2002. Pentingnya Pemberdayaan Masyarakat dalam Upaya Konservasi Sumberdaya Alam Hayati di Era Pelaksanaan Otonomi Daerah.
http://www.unej.ac.id/Fakultas/mipa/vol 3.no_1/sudarmadji.pdf.
Witarto, A.B. 2006. Protein Pencerna di Kantong Semar. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. http://www.lipi.go.id.

Selasa, 21 September 2010

Anugerah Yang Hilang (Catatan Kritis Terhadap Pemerintahan SBY Jilid 2 - Sektor Kehutanan) Oleh : Muhammad Teguh Surya1

Situasi Umum Sektor Kehutanan Indonesia

Indonesia memiliki 10% dari hutan tropis dunia yang masih tersisa. Alam Indonesia merupakan peringkat ke tujuh dalam keragaman spesies tumbuhan berbunga, memiliki 12% dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia (36% diantaranya spesies endemik), pemilik 16% spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung (28% diantaranya spesies endemik), 25% dari spesies ikan dunia 121 spesies kupu-kupu ekor walet di dunia (44% di antaranya endemik), spesies tumbuhan palem paling banyak, kira-kira 400 spesies 'dipterocarps', dan kira-kira 25.000 spesies flora dan fauna2.Namun hingga saat ini Indonesia telah kehilangan 72% hutan asli yang
ada pada awal abad ini3.

Penebangan hutan untuk industri (Industrial Logging) yang tidak terkontrol selama puluhan tahun telah menyebabkan terjadinya berkurangnya hutan tropis dalam skala besar. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun; salah satu angka kerusakan hutan tertinggi di dunia.

Diperkirakan dalam lima tahun terakhir kayu yang ditebang secara illegal mencapai 23,323 juta meter kubik setiap tahunnya. Menciptakan kerugian negara sebesar 27 trilyun rupiah setiap tahunnya. Seperti fenomena gunung es, angka sebenarnya tentu jauh dari itu. Pada tahun 2003,

Departemen Kehutanan sendiri memperkirakan bahwa pada tahun yang sama lebih kurang 36,4 juta meter kubik ditebang secara illegal Sementara berdasarkan penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan4. Bencana ekologi semakin menunjukkan peningkatan yang significant dari tahun ke tahun, dimana Walhi menemukan bahwa pada tahun 2007 telah terjadi 205 kali bencana dan pada tahun 2008 intensitasnya meningkat sampai dengan 359 kali, sementara upaya yang dilakukan oleh pemerintah masih bersifat lip service belaka dan tidak menunjukkan upaya serius untuk mereduksi dan mencegah bencana tersebut.

Persoalan Klasik Yang Harus Segera Diselesaikan

Praktek alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan monokultur setidaknya telah menuai bencana berkelanjutan bagi masyarakat yang hidup disekitar wilayah tersebut. Sayangnya pemerintah tak pernah meunjukkan itikad baik untuk menyelesaikannya secara benar. Izin-izin konversi terus dikeluarkan ditengah kontroversi yang ada, persoalan masa lalu hanya dijawab dengan pemberian kompensasi dan pemberian “Green Label” kepada perusahaan yang selama ini merusak sumberdaya hutan dan merusak tatanan social kehidupan masyarakat. Adapun berbagai persoalan klasik yang perlu segera dituntaskan oleh Menteri Kehutanan di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II adalah : 

Tidak adanya pengakuan akses dan control Rakyat

Sekitar 48,8 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal didalam dan sekitar hutan (Cifor, 2000). Dimana sebagian besar penduduk tersebut melakukan praktek usahatani gabungan subsistensi dan komersial antara padi gogo dan tanaman tahunan. Berbagai produk hutan juga dikumpulkan untuk dijual dan dikonsumsi di rumah, termasuk rotan, madu, damar, daun-daunan dan buah-buahan yang dapat dimakan, termasuk satwa liar, dan ikan. Sementara perkiraan lain menyebutkan sekitar 7 juta penduduk di Sumatera dan Kalimantan bergantung pada kebun karet yang menyebar di lahan seluas kurang lebih 2,5 juta hektar. Di Sumatera saja, kira-kira 4 juta hektar lahan dikelola oleh masyarakat lokal dalam bentuk berbagai jenis wanatani (yaitu kebun berbagai spesies buah digabung dengan pertumbuhan hutan alami) tanpa bantuan dari luar.5

Walaupun tidak memiliki sertifikat tanah secara tertulis, masyarakat asli memahami bentuk tradisional pengelolaan sebagai hak adat yang diwariskan, yang diakui secara spesifik dalam pasal 18, Undang-undang Dasar Negara Indonesia. Bentuk pengakuan yang diberikan pemerintah tidaklah setegas pengakuan hak yang diberikannya kepada koorporasi. Seperti pengakuan yang disebutkan dalam Undang-Undang No 5 tahun 1960 tentang pokok-pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Kehutanan No 5 tahun 1967 yang kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang Kehutanan No 41 tahun 1999.

Namun lewat kebijakan itu pula, secara tegas dinyatakan bahwa kesempatan untuk menuntut hak pemanfaatan hasil hutan maupun hak ulayat atas tanah tidak diperkenankan melebihi kepentingan nasional.

Pemerintah juga dengan sengaja menistakan keberadaan masyarakat hokum adat disekitar wilayah hutan seperti yang ditegaskan dalam peraturan perundangan tersebut dimana hutan adat adalah hutan negara yang kebetulan berada dalam wilayah masyarakat hukum adat6. Singkatnya ketika masyarakat yang telah menguasai dan mengelola hutan jauh sebelum negara ini lahir dan kemudian berkeinginan untuk melakukan pengelolaan dan pemanfaatan maka terlebih dahulu harus memohon izin kepada ‘pemilik’ barunya – Pemerintah Indonesia.
Setidaknya perilaku pemerintah seperti yang disebutkan diatas telah memicu terjadinya 300 konflik disektor kehutanan sepanjang periode 2000 – 2007.

Alih fungsi kawasan hutan

Legalisasi alih fungsi kawasan hutan untuk kepentingan koorporasi harus mendapat perhatian khusus untuk segera diselesaikan. Dimana keputusan alih fungi kawasan tidak berdasarkan pada hasil kajian yang menyeluruh dan mendalam, bahkan sering dilakukan tanpa proses prosedur yang benar, sehingga membuka ruang terjadinya praktek kolusi dan korupsi. Praktek alih fungsi kawasan ini tak jarang mengkonversi kawasan ekologi penting seperti daerah tangkapan air, wilayah hutan adat, pemukiman dan wilayah sacral masyarakat hukum adat. Tindakan alih fungsi kawasan ini telah mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati yang ada, memicu terjadinya abrasi, erosi, pendangkalan dan banjir.

Sayangnya tindakan alih fungsi kawasan yang jauh dari misi perlindungan hutan dan penyelamatan rakyat ini, dilegalisasi oleh pemerintah lewat berbagai kebijakan diantaranya, UU 41/ 1999 tentang Kehutanan Pasal (1) Perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan ditetapkan oleh pemerintah dan disasarkan pada hasil penelitian terpadu, Pasal (2) perubahan peruntukan kawasan hutan berdampak penting dan cakupan yang luas serta bernilai strategis ditetapkan oleh pemerintah dengan persetujuan DPR, Pasal (3) ketentuan tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan diatur dengan PP. Sementara Prosedur alih fungsi kawasan hutan diatur dalam SK Menhut No. 70/Kpts-II/2001 tentang Penetapan Kawasan hutan, Perubahan Status dan Fungsi Kawasan Hutan, SK Menhut No. 48/ 2004 tentang Perubahan Status Kawasan Hutan . Dan keluarnya PP No. 2/ 2008 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berasal dari Penggunaan
Kawasan Hutan Untuk Pembangunan Diluar Kehutanan (pelepasan kawasan hutan untuk pertambangan dan infrastruktur), semakin memperkuat arogansi pemerintah untuk segera menghabisi sumberdaya hutan yang tersisa. Hal ini jelas mengamcam keberlangsungan 11,4 juta hektar hutan lindung Indonesia.

Konflik satwa dan manusia makin kerap terjadi. Di Taman Nasional Bukit Barisan

Selatan dari tahun 2001 hingga Desember 2006 tercatat lebih kurang 50 kali kejadian gangguan satwa liar terutama gajah dan sekitar 35 kali gangguan harimau. Gangguan satwa liar mengakibatkankerusakan terhadap lahan pertanian, kebun, sawah, rumah-rumah penduduk, bahkan nyawa manusia7. Sementara itu, antara tahun 2002 hingga 2007 tercatat 42 orang warga tewas dan 100 ekor gajah mati akibat konflik manusia dan gajah di Sumatera8. Dan beberapa kali, komunitas lokal/adat ditempatkan sebagai pihak yang bersalah dalam konflik. Padahal, satwa-satwa keluar dari kawasan hutan akibat konversi hutan menjadi perkebunan, pertambangan dan kebun kayu skala luas.
4. Bisnis Haram Lembaga konservasi Internasional (LKI) Program ekowisata dan upaya perlindungan hutan adalah modal awal bisnis haram LKI untuk menjalankan bisnis sebenarnya. Hal ini biasanya dilakukan setelah 5 tahun si lembaga tersebut berada dalam satu wilayah yang dikonservasi. Di Taman NasionalKomodo misalnya, beberapa tahun lalu dibentuk sebuah perusahaan patungan bernama
PT Putri Naga Komodo yang sahamnya sebagian dimiliki oleh lembaga konservasi internasional (The Nature Conservancy) yang kemudian juga memperoleh hibah dari lembaga keuangan internasional (International Finance Cooperation - IFC) untuk menguatkan permodalannya. Sementara kelompok-kelompok nelayan lokal “dipaksa” untuk mencari wilayah tangkapan lainnya yang semakin jauh dari tempat tinggal mereka.

Temuan lain yang pernah dilansir oleh Washington Post9, bahwa The Nature Conservation, sebuah lembaga konservasi terkaya di dunia (yang juga beroperasi di Indonesia) dilaporkan telah melakukan pembalakan hutan, melakukan transaksi sebesar US$ 64 juta untuk membuka jalan bagi pembangunan rumah-rumah mewah di atas dataran yang rentan dan melakukan pengeboran gas alam di bawah daerah pembiakan spesies burung langka10. Bahkan dalam sebuah kesempatan, Staf dari The Nature Conservancy Indonesia menggunakan “kedekatan” dengan staf Balai Konservasi Sumberdaya Alam di sebuah provinsi agar dapat membawa Anggrek Hitam, spesies yang
dilindungi oleh Undang-Undang untuk kepentingan pribadi, dengan dalih kepentingan pelaksanaan pameran. Bisnis konservasi yang juga masih terjadi adalah bisnis spesies, termasuk didalamnya perdagangan satwa dan tumbuhan dilindungi, dan pertukaran satwa untuk kepentingan kebun binatang ataupun atas nama penelitian. Dalam tahun 2008, terjadi pengiriman feces, darah dan extract DNA dari beberapa spesies yang dilindungi di Indonesia, seperti Owa (Hylobates sp.), Orangutan (Pongo sp.), Siamang (Symphalangus
syndactylus) dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatraensis)11.

Masa Depan Sektor Kehutanan – Suram

Pujian berlebihan yang diberikan oleh Menteri Kehutanan yang baru saja dilantik kepada MS. Kaban, merupakan petanda buruk akan masa depan sector kehutanan. Bahkan niat beliau untuk mengikuti model kelola hutan yang diterapkan Kaban menunjukkan bahwa beliau sepertinya sangat tidak mengerti dengan apa yang sedang dihadapi bangsa ini. Namun janji Zulkifli Hasan sebagai Menteri Kehutanan yang baru untuk memprioritaskan penyelasaian peraturan disektor kehutanan yang tumpuh tindih patut di apresiasi dan terus dikawal agar tak menjadi layu sebelum berkembang.

Kembali kepada pertanyaan, apakah Menteri Kehutanan yang baru ini berani memimpin perubahan disektor kehutanan ke arah yang lebih baik, sepertinya perlu benar-benar diwaspadai. Program prioritas penting yang sedang direncakan tak menyentuh sama sekali akar persoalan disektor kehutanan, seperti praktek pemberian izin konversi hutan alam, hutan rawa gambut untuk HTI dan perkebunan sawit yang mengakibatkan berlanjutnya praktek pembakaran hutan dan lahan. Besarnya gap antara supply dan demand industry kayu yang memicu praktek pembalakan yang merusak, dan selalu membenturkan lambannya proses penegakan hukumdengan persoalan kurangnya dukungan pendanaan bagi Departemen Kehutanan justru memperlemah posisi institusi tersebut dihadapan para investor.

Melihat banyaknya persoalan yang harus segera diselesaikan disektor kehutanan dan membandingkannya dengan cara pandang Menteri kehuatan yang baru, muncul satu pertanyaan lagi yaitu, apakah Bapak Presiden salah memilih orang atau sengaja memilih orang yang masih memiliki pola pikir ekploitatif. Sehingga bisa melanjutkan se-sembahan kepada neokolonialisme barat.

Lihat jalan keluar yang tak bermartabat yang diusulkan oleh Sang Menteri yang baru saja terpilih sebagaimana yang dipetik berikut “Dana minim bisa diantisipasi dengan mengelola ribuan hektare hutan menjadi hutan tanaman industri. Dengan pengelolaan lahan kita secara bisnis diharapkan menghasilkan dana yang tidak hanya bermanfaat bagi Dephut tapi juga untuk masyarakat”. Jalan keluar yang Ia tawarkan ini jelas bertolak belakang dengan semangat untuk menghentikan bencana kebakaran hutan dan lahan dan menyelamatkan hutan alam yang tersisa.

Mengingat Hutan Tanaman Industri yang lebih cocok disebut dengan Kebun Kayu adalah aktor utama deforestasi dan pembakaran hutan dan lahan di Indonesia. Namun tidak ada salahnya juga ketika rakyat Indonesia sedikit menaruhkan harapan perubahan pada sang Menteri tentu saja dengan terus menerus mengkritisi dan mengawal setiap kebijakan yang dikeluarkannya dan melaporkan perilaku buruk aparat kehutanan baik di daerah maupun di nasional. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bagi rakyat untuk memperkarakan beliau di meja hijau jika memang terbukti mengkhianati kepercayaan rakyat. Krisis multidimensi yang sedang dihadapi bangsa ini hanya bisa dihentikan dengan keberanian untuk berbuat benar tanpa rasa takut untuk dikucilkan.


Referensi
1 Penulis merupakan Kepala Departemen Kampanye Eksekutif Nasional Walhi periode 2008-2012. Sebelumnya aktif di Walhi Riau
sebagai Deputi Direktur periode 2003 – Mei 2008.
2 http://www.globalforestwatch.org/bahasa/indonesia/
3 World Resource Institute, 1997
4 Makalah Badan Planologi Departemen Kehutanan, Pengelolaan Pembangunan Kehutanan dan Perkebunan yang Selaras dengan
Proses Desentralisasi/Otonomi dan Penerapan Prinsip Good Governance Ditinjau dari Aspek Koordinasi Penyusunan Kebijakan,
disampaikan dalam Lokakarya “Sinkronisasi Antara Pengelolaan Sumberdaya Alam dengan Desentralisasi – Tinjauan dari Aspek
Koordinasi Penyusunan Kebijakan” di Pekan Baru Riau, 14-15 Oktober 2003.
5 H. deForesta, A. Kusworo G. Michon, dan W.A. Djamiko, eds., Agro-forest Khas Indonesia: Sebuah SumbanganMasyarakat
(Bogor, Indonesia: International Center for Research on Agro-Forestry, 2000).
6 UU No 41/99 pasal 1 ayat (6)
7 Kompas.com, Perambahan Hutan Penyebab Konflik Manusia dengan Satwa Liar,
http://www2.kompas.com/ver1/Iptek/0703/14/162724.htm
8 KapanLagi.com, Konflik Gajah Sumatera dan Manusia Tewaskan 42 Warga, 29 Agustus 2007,
http://www.kapanlagi.com/h/0000188650.html
9 Informasi terkait The Nature Conservancy dapat dilihat di: http://www.washingtonpost.com/wpdyn/
nation/specials/natureconservancy/ dan http://www.washingtonpost.com/wpdyn/
content/linkset/2007/11/16/LI2007111600631.html
10 Sinar Harapan, LSM Konservasi Lakukan Pembalakan Hutan http://www.sinarharapan.co.id/berita/0305/19/ipt01.html
11 Departemen Kehutanan, Realisasi Ekspor Tumbuhan dan Satwa Liar (per Oktober 2008),
http://www.dephut.go.id/index.php?q=id/node/4949

Daftar Beberapa Nama Tumbuh-Tumbuhan / Tanaman Langka Yang Dilindungi di Indonesia

Tumbuhan Langka di Indonesia.
Indonesia sangat terkenal dengan keanekaragaman jenis tumbuhan. Bahkan Indonesia diklaim sebagai negara dengan keanekaragaman jenis tumbuh-tumbuhan nomor 2 di dunia. Kita tentu saja patut berbangga bahwa sebenarnya negara kita tercintaIndonesia ini menyimpan kekayaan yang tak ternilai. Namun dibalik semua itu rupanya kita menyimpan keprihatinan bahwa diantara keanekaragaman jenis tumbuhan yang kita miliki tersebut, beberapa diantaranya sudah masuk dalam kriteria tumbuhan langka atau tumbuhan/tanaman langka yang nyaris punah.

Sangat disesalkan bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak menyadari bahwa akibat kekurang pedulian kita, tumbuhan-tumbuhan langka di Indonesia perlahan-lahan punah. Lihat saja kasus pembalakan hutan secara serampangan, ilegal logging, jual beli tanaman langka, pembakaran hutan dan lain sebagainya. Sadarkah kita bahwa kelakuan seperti ini menyebabkan tanaman-tanaman langka akan "lenyap" dari bumi Indonesia tercinta ini?

Berikut ini beberapa nama tumbuhan langka yang dilindungi di Indonesia yang patut dilindungi dan dilestarikan.


1. Balam Suntai (Palaquium walsurifolium)
2. Bayur (Pterospermum sp)
3. Bulian, Ulin Eusideroxylon zwageri
4. Cendana (Santalum album)
5. Damar, Kopal Keruling (Agathis labillardieri)
6. Durian (Durio Zibethinus)
7. Enau (Arenga pinnata)
8. Eucalyptus (Eucalyptus sp)
9. Hangkang (Palaquium leiocarpum)
10. Hongi / saya (Myristica argentea)
11. Imba (Azadirachta indica)
12. Jambu Monyet (Agathis Lalillardieri)
13. Jelutung (Dyera sp)
14. Kapur Barus (Dryobalanops camphora)
15. Katiau (Ganna metloyauma)
16. Kayu Bawang (Scorodocarpus borneensis)
17. Kayu Hitam (Diospyros sp)
18. Kayu Kuning (Cudrania sp)
19. Kayu Manis (Cinnamomun burmannii)
20. Kayu Sepang (Caesalpina sappan)
21. Kemenyan (Styra sp)
22. Kemiri ( Dipterocarpus sp)
23. Keruling (Dipterocarpus sp)
24. Ketimunan (Timonius sericcus)
25. Kulit Lawang (Cinnamomun cullilawan)
26. Ipil (Instsia amboinensis)
27. Malam Merah (Palaquium gutta)
28. Massoi (Cryptocaria massoi)
29. Mata Buta / Garu (Excoecaria agallocha)
30. Mata Kucing / Damar (Shorea sp)
31. Purnamasada (Cordia subcordata)
32. Sawo Kecik (Manilkata kauki)
33. Sonolkeling (Dalbergia latifolia)
34. Suren (Toona sureni)
35. Taker, Benuang (Duabanga moluccana)
36. Tembesu (Fagraea fragrans)

FLORA SEBAGAI IDENTITAS PROVINSI DI INDONESIA

Berikut ini adalah Daftar Flora Identitas Provinsi di Indonesia berdasarkan keputusan Menteri Dalam Negeri No. 48 tahun 1989 tentang identitas flora masing-masing provinsi:

Referensi

  1. ^ Michelia champaca. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  2. ^ Cananga odorata. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  3. ^ Morus macroura. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  4. ^ Oncosperma tigillarium. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  5. ^ Piper betle. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  6. ^ Cyrtostachys renda. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  7. ^ Lansium domesticum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  8. ^ Amorphophallus titanum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  9. ^ Palaquium rostratum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  10. ^ Mirabilis jalapa. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  11. ^ Vatica bantamensis. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  12. ^ Salacca edulis. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  13. ^ Bouea macrophylla. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  14. ^ Michelia alba. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  15. ^ Stelechocarpus burahol. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  16. ^ Polyanthes tuberosa. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  17. ^ Shorea stenoptera. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  18. ^ Mangifera casturi. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  19. ^ Nephelium lappaceum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  20. ^ Coelogyne pandurata. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  21. ^ Ficus minahasae. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  22. ^ Vitex cofassus. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  23. ^ Diospyros celebica. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  24. ^ Dendrobium utile. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  25. ^ Elmerrillia ovalis. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  26. ^ Borassus flabellifer. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  27. ^ Dysoxylum densiflorum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  28. ^ Diospyros macrophylla. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  29. ^ Santalum album. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  30. ^ Dendrobium phalaenopsis. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  31. ^ Syzygium aromaticum. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  32. ^ Pometia pinnata. Prosea. Diakses pada 4 November 2007
  33. ^ Pandanus conoideus. Prosea. Diakses pada 4 November 2007

    KEANEKARAGAMAN HAYATI DI INDONESIA

    Indonesia adalah negara yang termasuk memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi. Taksiran jumlah utama spesies sebagai berikut. Hewan menyusui sekitar 300 spesies, burung 7.500 spesies, reptil 2.000 spesies, tumbuhan biji 25.000 spesies, tumbuhan paku-pakuan 1.250 spesies, lumut 7.500 spesies, ganggang 7.800, jamur 72.000 spesies, serta bakteri dan ganggang hijau biru 300 spesies. Dari data yang telah disebutkan, itu membuktikan bahwa tingkat biodiversitas di Indonesia sangatlah tinggi.
    Indonesia merupakan salah satu dari tiga negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Dua negara lainnya adalah Brasil dan Zaire. Tetapi dibandingkan dengan Brazil dan Zaire, Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia memiliki areal tipe indo-malaya yang luas, juga tipe oriental, australia, dan peralihannya. Selain itu, di Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta spesies endemik.

    Memiliki Keanekaragaman Hayati Tinggi

    Indonesia terletak di daerah tropik sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dibandingkan dengan daerah subtropik (iklim sedang) dan kutub (iklim kutub). Keanekaragaman tinggi di Indonesia dapat dijumpai di dalam lingkungan hutan tropik. Jika di hutan iklim sedang dijumpai satu atau dua jenis pohon, maka di areal yang sama di dalam hutan hujan tropik memiliki keanekaragaman hayati sekitar 300 kali lebih besar dibandingkan dengan hutan iklim sedang.

    Di dalam hutan hujan tropik terdapat berbagai jenis tumbuhan (flora) dan fauna yang belum dimanfaatkan, atau masih liar. Di dalam tubuh hewan dan tumbuhan itu tersimpan sifat-sifat unggul, yang mungkin dapat dimanfaatkan di masa mendatang. Sifat-sifat unggul itu misalnya tumbuhan yang tahan penyakit, tahan kekeringan, dan tahan terhadap kadar garam yang tinggi. Ada pula yang memiliki sifat menghasilkan bahan kimia beracun. Jadi, di dalam dunia hewan dan tumbuhan, baik yang sudah dibudidayakan maupun belum, terdapat sifat-sifat unggul yang perlu dilestarikan.

    Memiliki Tumbuhan Tipe Indo-Malaya yang Arealnya Luas

    Tumbuhan di Indonesia merupakan bagian dari daerah geografi tumbuhan indo-malaya, seperti yang dinyatakan oleh Ronald D. Good dalam bukunya The Geography of Flowering Plants. Flora indo-malaya meliputi tumbuhan yang hidup di India, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Philipina. Flora yang tumbuh di Malaysia, Indonesia, dan Philipina sering disebut sebagai kelompok flora malenesia.

    Mengapa Malaysia, Indonesia, dan Philipina memiliki rumpun tumbuhan bunga yang sama? Hal ini dipengaruhi oleh sejarah pembentukan daratan (geologi), kondisi iklim yang serupa (sama-sama beriklim tropis), ketinggian topografi yang serupa, dan kondisi fisika dan kimia tanah yang serupa pula.

    Hutan di Indonesia dan hutan-hutan di daerah flora malenesia memiliki kurang lebih 248.000 spesies tumbuhan tinggi. Jumlah ini kira-kira setengah dari seluruh spesies tumbuhan di bumi. Hutan hujan tropik di malenesia didominasi oleh pohon dari famili Dipterocarpaceae, yaitu pohon-pohon yang menghasilkan biji bersayap. Biasanya Dipterocarceae merupakan tumbuhan tertinggi. Tumbuhan yang termasuk famili Dipterocarpaceae misalnya keruing (dipterocarus spp.), meranti (Shorea spp.), kayu garu (Gonystylus bancanus), dan kayu kapur (Dyrobalanops aromatica).

    Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropik, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat). Tumbuhan khas seperti durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), dan sukun (Artocarpus) di Indonesia tersebar di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Tumbuhan-tumbuhan ini juga terdapat di Malaysia dan Philipina. Di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia arnoldii. Tumbuhan Rafflesia tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis anggur liar, yaitu Telrastigma.

    Di Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan hujan non-Dipterocarpaceae. Hutan ini kebanyakan menduduki lahan datar. Pohon-pohonnya rendah, hanya beberapa yang mencapai 30-40 m, Di antaranya adalah Ficus (kerabat beringin) dan matoa (Pometia pumata). Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian. Namun kini bibit buahnya telah diintroduksi ke beberapa tempat di Pulau Jawa dan telah berbuah.

    Selain hutan-hutan di atas, di Indonesia masih terdapat beberapa tipe hutan lain misalnya, hutan kerangas yang terdapat di sela-sela hutan hujan. Disini terdapat pohon yang mencapai 30 m. Hutan monsun tersebar pada ketinggian 0 sampai 800 m di daerah kering seperti Jawa Timur, NTT, Sulawesi Selatan dan Tenggara serta Irian Jaya (Papua). Di sini pohon dapat mencapai ketinggian 25 m. Di tempat-tempat tersebut terdapat pula hutan savana, yang berupa padang rumput dengan pepohonan yang terpencar.

    Memiliki Hewan Tipe Oriental (Asia), Australia, Serta Perlalihannya

    Ketika Alfred Russel Wallace mengunjungi Indonesia pada tahun 1856, ia menemukan perbedaan besar fauna di beberapa daerah di Indonesia (waktu itu Hindia Belanda). Ketika ia mengunjungi Bali dan Lombok, ia menemukan perbedaan hewan di kedua daerah tersebut. Di Bali, terdapat banyak hewan yang mirip dengan hewan-hewan yang mirip hewan-hewan Asia (Oriental), sedangkan di Lombok hewan-hewannya mirip dengan Australia. Oleh sebab itu, kemudian ia membuat garis pemisah yang memanjang mulai dari Selat Lombok ke Utara melewati Selat Makasar dan Philipina Selatan. Garis ini disebut Garis Wallace.

    Indonesia terbagi menjadi dua zoogeografi yang dibatasi oleh Garis Wallace. Garis Wallace membelah Selat Makasar menuju ke Selatan hingga ke Selat Lombok. Jadi, Garis Wallace memisahkan wilayah oriental (termasuk Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan) dengan wilayah Australia (Sulawesi, Irian, Maluku, Nusa Tenggara Barat dan Timur).

    Setelah Wallace, Weber seorang ahli zoologi Jerman juga mengadakan penelitian tentang penyebaran hewan-hewan di Indonesia. Weber melihat bahwa hewan-hewan di Sulawesi tidak dapat sepenuhnya dikelompokkan sebagai hewan-hewan kelompok Australia. Hewan-hewan tersebut ada yang memiliki sifat-sifat seperti halnya hewan-hewan di daerah Oriental. Oleh sebab itu, Weber mengatakan bahwa fauna di Sulawesi merupakan fauna peralihan. Weber kemudian membuat garis pembatas yang berada di sebelah timur Sulawesi memanjang ke Utara ke Kepulauan Aru. Pulau Sulawesi merupakan pulau pembatas antara wilayah Oriental dan Australia atau merupakan wilayah peralihan yang paling mencolok. Sulawesi dihuni oleh sebagian hewan Oriental dan sebagian hewan Australia. Contohnya di Sulawesi terdapat oposum dari Australia namun juga terdapat kera macaca dari Oriental.

    Fauna Daerah Oriental

    Hewan-hewan di bagian barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa dan Kalimantan, serta pulau-pulaunya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
    1. Banyak spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
    2. Terdapat berbagai macam kera. Kalimantan merupakan pulau yang paling kaya kan jenis-jenis primata. Ada tiga jenis primata, misalnya bekantan, tarsius, loris hantu, orang utan.
    3. Terdapat hewan endemik, seperti:
    • Badak bercula satu di Ujung Kulon
    • Binturong (Arctictis binturong), hewan sebangsa beruang tapi kecil
    • Monyet Presbytis thomasi
    • Tarsius (Tarsius bancanus)
    • Kukang (Mycticebus coucang)
    4. Burung-burung Oriental memiliki warna yang kurang menarik dibanding burung-burung di daerah Australia, tetapi dapat berkicau. Burung-burung yang endemik misalnya jalak bali (Leucopsar rothschildi), elang jawa, murai mengkilat (Myophoneus melurunus), elang putih (Mycrohyerax latifrons), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), ayam pegar.

    Fauna Daerah Australia

     Jenis-jenis hewan di Indonesia bagian Timur, yaitu Irian, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara, relatif sama dengan Australia. Ciri-ciri hewan di Indonesia bagian Timur adalah:
    1. Mamalia berukuran kecil
    2. Banyak hewan berkantung
    3. Tidak terdapat spesies kera
    4. Jenis-jenis burung memiliki warna yang beragam
    Irian Jaya memiliki 110 spesies mamalia, termasuk di dalamnya 13 spesies mamalia berkantung, misalnya kanguru (Dendrolagus ursinus dan Dendrolagus inustus), kuskus (Spilocus maculatus), bandicot, dan oposum. Di Irian juga terdapat 27 spesies hewan pengerat (rodentia), dan 17 di antaranya merupakan spesies endemik. Irian Jaya memiliki koleksi burung terbanyak dibandingkan dengan pulau-pulau lain di Indonesia, kira-kira ada 320 jenis, dan setengah di antaranya merupakan spesies endemik. Burung cendrawasih yang terkenal terdapat di Irian dan beberapa pulau di Maluku.

    Di Nusa Tenggara, terutama di pulau Komodo, Padar, dan Rinca terdapat reptilia terbesar, yaitu komodo. Komodo merupakan reptilia purba yang bertahan hidup hingga kini.

    Sulawesi merupakan daerah peralihan yang mencolok menurut garis Weber. Hewan-hewan yang terdapat di pulau itu berasal dari oriental dan Australia. Di Sulawesi terdapat banyak hewan endemik, misalnya primata primitif Tarsius sectrum, musang sulawesi (Macrogalida musschenbroecki), babirusa, anoa, maleo, dan beberapa jenis kupu-kupu.

    Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Langka

    Di Indonesia banyak terdapat hewan dan tumbuhan yang telah langka. Hewan langka misalnya:
    • Babirusa (Babyrousa babyrussa)
    • Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae)
    • Harimau jawa (Panthera tigris sondanicus)
    • Macan kumbang (Panthera pardus)
    • Orangutan (Pongo pygmaeus abelii)
    • Badak sumatera (Decerorhinus sumatrensis)
    • Tapir (Tapirus indicus)
    • Gajah asia (Elephas maximus)
    • Bekantan (Nasalis larvatus)
    • Komodo (Varanus komodoensis)
    • Banteng (Bos sondaicus)
    • Cendrawasih (Paradisaea minor)
    • Kanguru pohon (Dendrolagus ursinus)
    • Maleo (Marcochephalon maleo)
    • Kakatua raja (Probosciger atterimus)
    • Rangkong (Buceros rhinoceros)
    • Kasuari (Casuarius casuarius)
    • Buaya muara (Crocodylus porosus)
    • Buaya irian (Crocodylus novaeguinae)
    • Penyu tempayan (Caretta caretta)
    • Penyu hijau (Chelonia mydas)
    • Sanca bodo (Phyton molurus)
    • Sanca hijau (Chondrophyton viridis)
    • Bunglon sisir (Gonyochepalus dilophus)
    Tumbuh-tumbuhan langka misalnya:
    • Bedali (Radermachera gigantea)
    • Putat (Planhonia valida)
    • Kepuh (Stereula foetida)
    • Bungur (Lagerstromia speciosa)
    • Nangka celeng (Artocarpus heterophyllus)
    • Kluwak (Pangium edule)
    • Bendo (Artocarpus elasticus)
    • Mundu (Garcinia dulcis)
    • Sawo kecik (Manilkara kauki)
    • Winong (Tertrameles nudiflora)
    • Sanca hijau (Pterospermum javanicum)
    • Gandaria (Bouea marcophylla)
    • Matoa (Pometis pinnata)
    • Sukun berbiji (Artocarpus communis)
    •  
    Memiliki Banyak Hewan dan Tumbuhan Endemik

    Di Indonesia terdapat hewan dan tumbuhan endemik. Hewan dan tumbuhan endemik Indonesia artinya hewan dan tumbuhan itu haya ada di Indonesia, tidak terdapat di negara lain.

    Hewan endemik misalnya harimau jawa, harimau bali (sudah punah), jalak bali putih di Bali, badak bercula satu di Ujung Kulon, biturong, monyet Presbytis thomasi, tarsius, kukang, maleo hanya di Sulawesi, komodo di Pulau Komodo dan sekitarnya.

    Tumbuhan yang endemik terutama dari genus Rafflesia arnoldii (endemik di Sumatera Barat, Bengkulu, dan Aceh), R. borneensis (Kalimantan), R. ciliata (Kalimantan Timur), R. horsfilldii (Jawa), R. patma (Nusa Kambangan dan Pangandaran), R. rochussenii (Jawa Barat), dan R. contleyi (Sumatera bagian timur).

    Keanekaragaman Hayati Dunia

    Kehadiran makhluk hidup ditentukan oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan dapat dibedakan sebagai kondisi dan sumber daya. Kondisi adalah suatu faktor yang besarannya dapat diukur dan tidak habis jika digunakan oleh organisme. Contoh kondisi adalah suhu, intensitas cahaya, curah hujan, dan radiasi matahari. Sedangkan sumber daya adalah faktor lingkungan yang habis ketersediaanya bila sudah digunakan, misalnya makanan dan ruang (tempat tinggal).

    Matahari adalah sumber energi utama untuk kehidupan di bumi. Jumlah sinar matahari yang diterima oleh permukaan bumi menentukan penyebaran makhluk hidup. Karena permukaan bumi bulat maka setiap tempat di permukaan bumi mendapatkan sinar matahari dengan jumlah yang berbeda-beda. Akibatnya suhu di berbagai tempat di permukaan bumi berbeda-beda. Berdasarkan letak terhadap garis lintang, maka bumi dibagi dalam beberapa daerah iklim sebagai berikut.
    1. Daerah tropik berada di antara 23,50 LU dan 23,50 LS. Daerah ini hanyaq memiliki dua musim.
    2. Daerah iklim sedang (subtropik) berada di antara 23,50 dan 660. Daerah ini memiliki empat musim, yaitu panas, gugur, seni, dan dingin (salju).
    3. Daerah kutub (artik) berada pada garis lintang lebih dari 660.
    4. Daerah peralihan antara subtropik dan kutub (subartik).
    Faktor lingkungan penting yang mempengaruhi kehadiran dan penyebaran oraganisme adalah suhu. Variasi suhu lingkungan menentuakn proses kehidupan, penyebaran dan kelimpahan organisme. Variasi suhu lingkungan alami dapat bersifat siklik (misalnya musiman, harian). Hal ini berkaitan dengan letak tempat di garis lintang (latitudinal), atau ketinggian di permukaan laut (altitudinal). Variasi suhu berdasarkan garis lintang berkaitan dengan variasi musim yang disebabkan oleh posisi poros bumi terhadap matahari.
    Interaksi antara suhu, kelembapan, angin, altitudinal, latitudinal, dan topografi menghasilkan daerah iklim yang luas yang dinamakan bioma. Setiap bioma memiliki hewan dan tumbuhan tertentu yang khas. Beberapa bioma di bumi antara lain tundra, taiga, hutan gugur, hutan hujan tropik, padang rumput, dan gurun.

    Tundra

    Tundra terdapat di lingkungan kutub utara dan kutub selatan, Green Land, Siberia utara. Daerah ini beriklim kutub, sehingga selalu tertutup salju. Tumbuhan yang ada terutama adalah lumut Sphagnum dan lumut kerak. Tumbuhan tahunan hampir tidak ada. Tumbuhan semusim berumur pendek dan berbunga serempak pada musim panas, serta memiliki biji-biji yang dorman selama musim dingin. Hewan-hewan yang ada adalah beruang kutub, serigala kutub, reinder, dan caribou bull (sebangsa rusa). Di bioma tundra juga terdapat burung yang umumnya membuat sarang pada musim panas. Burung ini adalah burung migran (berasal dari daerah lain).

    Taiga

    Taiga terdapat di antara daerah subtropik dan kutub, misalnya di Rusia dan Eropa Utara, Kanada, dan Alaska. Jadi, taiga terletak di sebelah selatan tundra. Tumbuhan khas yang ada di taiga adalah konifer atau tumbuhan berdaun jarum (pohon spruce, alder, dan birch), yang hijau sepanjang tahun. Taiga juga sering disebut sebagai hutan boreal. Seperti pada bioma tundra, di taiga juga sangat dingin pada musim salju, tetapi musim panasnya lebih lama. Hewan yang ada adalah beruang hitam dan serigala.

    Hutan Gugur

    Hutan gugur terdapat di daerah subtropik di Eropa Barat, Korea, Jepang utara, dan Amerika Timur. Bioma ini memiliki curah hujan 75 – 100 cm per tahun, memiliki empat musim. Tumbuhan yang ada terutama mapel, oak, beech, yang selalu menggugurkan daunnya pada musim gugur. Hewan-hewan yang umum adalah rusa, beruang, dan rubah.

    Hutan Hujan Tropik

    Bioma ini berada di daerah tropik, yaitu di Indonesia, India, Thailand, Brazil, Kenya, Costa Rica, dan Malaysia. Curah hujan tinggi yaitu 200 – 255 cm per tahun, matahari bersinar sepanjang tahun. Jenis tumbuhan sangat banyak dan komunitasnya sangat kompleks. Tumbuhan tumbuh dengan subur, tinggi, serta banyak cabang dengan daun yang lebat sehingga membentuk tudung atau kanopi. Tumbuhan khas adalah kelompok liana, yaitu tumbuhan yang merambat, misalnya rotan, dan tumbuhan epifit yaitu tumbuhan yang menempel pada tumbuhan lain, misalnya anggrek. Binatang yang menghuni hutan hujan tropik adalah berbagai macam burung, kera, babi hutan, tupai, macan, gajah, dan rusa.

    Padang Rumput

    Padang rumput banyak terdapat di Nusa tenggara, Amerika Serikat bagian Tengah, Afrika Tengah dan Selatan, serta Eropa Timur. Bioma ini curah hujannya rendah yaitu 25 -30 cm per tahun. Tumbuhan utama adalah rumput-rumputan. Hewannya meliputi bison, zebra, kanguru, jerapah, kijang, singa, serigala, jaguar, binatang pengerat, reptilia, dan beberapa burung. Padang rumput di daerah tropik disebut sebagai savana.

    Gurun

    Bioma gurun terdapat di Asia Kecil, Afrika utara, Chima, Mongolia, dan Amerika Barat. Curah hujan sangat rendah kurang lebih 25 cm per tahun, suhu sangat tinggi di siang hari dan sangat rendah di malam hari, kelembapan udara rendah, tanahnya tandus. Tumbuhannya terutama kaktus, dan tumbuhan efemera (tumbuhan yang pada waktu hujan cepat tumbuh, cepat berbunga dan memiliki biji yang dorman). Hewan yang ada adalah unta, tikus, ular, kadal, dan semut.

    Bioma Berdasarkan Altitudinal

    Telah diuraikan bahwa permukaan bumi berdasarkan latitudinal dapat dibedakan menjadi daerah tropik, subtropik, dan kutub. Masing-masing daerah tersebut memiliki jenis organisme dan keanekaragaman yang berbeda. Di daerah peralihan antara subtropik dan kutub terdapat hutan taiga yang terdiri dari tumbuhan berdaun jarum dan di daerah kutub terdapat tundra.

    Gambaran penyebaran bioma secara horizontal (berdasarkan latitudinal atau garis lintang) ternyata mirip dengan gambaran penyebaran secara vertikal (berdasarkan tinggi di atas permukaan laut atau altitudinal).

    Indonesia yang terletak di daerah khatulistiwa memiliki penyebaran vertikal yang mirip dengan pola penyebaran horizontal di atas. Pola penyebaran vertikal ini dimulai dari wilayah pantai hingga ke puncak Jayawijaya di Irian Jaya (Papua), yaitu hutan hujan tropik, hutan gugur, taiga, dan di puncak gunung bersalju Jayawijaya terdapat tundra.

    Bioma Air Tawar

    Ekosistem air tawar memiliki kadar garam rendah. Air tawar memiliki kemampuan menyerap panas dari cahaya matahari sehingga perubahan suhu tidak terlalu besar. Berdasarkan ada tidaknya arus, ekosistem air tawar dibedakan menjadi ekosistem lentik (air tidak mengalir) misalnya danau, kolam, rawa, serta ekosistem lotik (air mengalir) misalnya sungai.

    Tumbuhan yang menghuni lingkungan perairan tawar meliputi tumbuhan yang berukuran besar (makrohidrofita) serta tumbuhan yang berukuran kecil, yaitu ganggang. Tumbuhan biji di ekosistem air tawar misalnya teratai dan eceng gondok. Sedangkan tumbuhan yang berukuran mikroskopik misalnya ganggang biru, ganggang hijau, dan diatomae. Hewan yang menghuni air tawar adalah udang-udangan, ikan, dan serangga.

    Organisme Air Tawar

    Berdasarkan cara hidupnya, organisme yang hidup di air dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.
    1. Plankton, yaitu organisme yang berukuran mikroskopik yang hidup melayang-layang dalam air. Plankton dibedakan atas fitoplankton (plankton tumbuhan), zooplankton (plankton hewan), dan bakterioplankton (bakteri).
    2. Nekton, yaitu organisme yang hidup berenang di dalam air. Misalnya ikan.
    3. neuston, yaitu organisme yang hidupnya berada di atas permukaan air.
    4. Bentos, yaitu organisme yang hidup di dasar perairan. Bentos umumnya berfungsi sebagai penghancur (dekomposer), misalnya cacing, moluska, dan beberapa larva serangga.
    5. perifiton, yaitu organisme yang melekat pada batang, akar, dan daun tumbuhan air atau pada benda-benda lain di air.

    Pembagian Bioma Air Tawar

    Secara fisik bioma air tawar dibagi menjadi beberapa daerah, yaitu litoral, limnetik, dan profundal.
    1. Litoral merupakan daerah air yang dangkal sehingga cahaya matahari dapat menembus sampai dasar. Organisme yang hidup adalah zooplankton, fitoplankton, dan hewan bentos.
    2. Limnetik merupakan daerah yang tebuka dan dapat ditembus cahaya matahari. Organisme yang hidup adalah zooplankton, fitoplankton, nekton, dan neuston.
    3. Profundal merupakan daerah yang tidak dapat ditembus olah cahaya matahari.
    Habitat air tawar memiliki kadar garam yang lebih rendah daripada sel-sel organisme yang ada di habitat ini. Dengan demikian, tekanan osmosis air tawar lebih rendah dibandingkan dengan tekanan osmosis sel-sel organisme air tawar. Akibat perbedaan tekanan osmosis tersebut maka hewan air tawar, misalnya ikan, terus-menerus kemasukan air. Untuk mengatasi hal tersebut, ikan beradaptasi dengan mengeluarkan banyak urin dan mengabsorbsi garam-garaman melalui insangnya.

    Bioma Air Laut

    Bioma air laut luasnya lebih dari dua pertiga permukaan bumi. Bioma air laut kurang terpengaruh oleh perubahan iklim dan cuaca. Ciri khas air laut adalah mempunyai kadar garam yang tinggi. Kadar garam rata-rata air laut adalah 35 ppm (part per million). Di daerah khatulistiwa kadar garamnya lebih tinggi daripada di daerah yang jauh dari khatulistiwa.

    Organisme laut memiliki pola adaptasi terhadap tekanan osmosis sir laut yang tinggi dengan cara yang berlawanan dengan organisme air tawar. Ikan laut misalnya, mengatasi kekurangan cairan akibat keluarnya cairan tubuh secara osmosis, dengan cara bayak minum air, sedikit mengeluarkan urin dan mengekskresikan garam-garaman melalui insang.

    Suhu air di permukaan lebih tinggi daripada di bagian dalam, karena permukaan menyerap panas dari cahaya matahari. Perbedaan ini menyebabkan air yang ada di permukaan tidak dapat bercampur dengan air yang ada di lapisan bawahnya. Ini disebabkan air yang suhunya lebih dingin memiliki massa jenis yang lebih besar. Di antara kedua lapisan air yang dingin dan lapisan yang hangat itu terdapat lapisan termoklin.

    Pembagian Bioma Air Laut

    Sampai berapa dalamkah cahaya matahari dapat menembus laut? Hal ini tergantung pada kejernihan air dan letak geografinya. Laipsan air yang dapat ditembus oleh cahaya disebut daerah fotik. Kedalaman daerah fotik kira-kira sampai kedalaman 200 m daerah yang tidak dapat ditembus cahaya matahari disebut daerah afotik.
    Sebagaimana pada ekosistem air tawar, ekosistem laut pun dibagi menjadi beberapa daerah berdasarkan kedalamannya, yaitu sebagai berikut.
    1. Daerah litoral, yaitu daerah laut yang berbatasan dengan daratan. Daerah litoral dapat ditembus oleh cahaya matahari sampai ke dasar.
    2. Daerah neritik, merupakan daerah laut dangkal sampai pada kedalaman 200 m.
    3. Daerah batial, yaitu daerah dengan kedalaman 200-300 m.
    4. Daerah abisal, yaitu daerah yang kedalamannya lebih dari 2000 m.
    Daerah yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi adalah daerah litoral dan neritik. Karena banyak cahaya matahari, di daerah ini banyak terdapat fitoplankton dan zooplankton yang merupakan sumber makanan bagi organisme laut lainnya. Pada sinag hari plankton bergerak menuju ke laipsan yang lebih dalam, sedangkan pada malam hari bergerak menuju ke permukaan laut. Ikan-ikan mengikuti gerakan plankton tersebut. Itulah sebabnya, para nelayan mencari ikan di malam hari.

    Di daerah batial atau dasar laut yang tidak ada cahaya hanya dihuni oleh ikan-ikan khas, misalnya ikan yang dapat mengeluarkan cahaya. Umumnya organisme yang hidup di daerah ini menunggu jatuhan bahan organik dari daerah permukaan

    Vegetasi Pantai

    Di perbatasan antara laut dan darat terdapat daerah pasang surut. Tumbuhan ynag hidup di daerah pantai harus menyesuaikan diri dengan hempasan gelombang. Biasanya tumbuhan yang ada berupa tumbuhan menjalar dengan geragih yang panjang. Vegetasi pantai membentuk formasi yang diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan.

    Pada pantai yang landai biasanya terdapat daerah pasang surut yang berlumpur. Daerah ini membentuk hutan bakau yang disebut dengan mangrove. Tumbuhan yang terdapat di mangrove misalnya Avicennia, Rhizophora, Achantus, Cerbera, Bruguiera, dan Ceriops. Mangrove yang dasarnya koral berpasir umumnya didominasi oleh Sooeratia alba.

    Semua pohon di daerah mangrove mempunyai akar yang khas. Ada yang berakar napas seperti Avicennia dan Sonneratia. Ada yang berakar jangkar untuk menahan pengaruh pasang surut.

    Di muara sungai dikenal ekosistem pantai lumpur (mangrove) terutama di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Irian.

    Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi adalah Avicennia dan Sonneratia. Di pantai selatan Jawa, Bali, dan NTT, pantai barat Sumatera, dan kepulauan Maluku terdapat ekosistem pantai batu. Vegetasi umumnya adalah ganggang laut, di antaranya Euchema, Sargasum, dan Gellidium. Di perairan jernih, terbentuk terumbu karang. Indonesia memiliki terumbu karang dengan kenanekaragaman tinggi yang tergolog kelas dunia misalnya di Bunaken, Teluk Cendrawasih, dan Kepulauan Natuna.

    Manfaat Keanekaragaman Hayati Bagi Kelangsungan Hidup Manusia

    Pemanfaatan keanekaragaman hayati bagimasyarakat harus secara berkelanjutan. Yang dimaksud dengan manfaat yang berkelajutan adalah manfaat yang tidak hanya untuk generasi sekarang tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

    Sebagai Sumber Pangan, Perumahan, dan Kesehatan

    Kehidupan manusia yang bergantung pada keanekaragaman hayati. Hewan dan tumbuhan yang kita manfaatkan saat ini (misalnya ayam, kambing, padi, jagung) pada zaman dahulu juga merupakan hewan dan tumbuhan liar, yang kemudian dibudidayakan. Hewan dan tumbuhan liar itu dibudidayakan karena memiliki sifat-sifat unggul yang diharapkan manusia. Sebagai contoh, ayam dibudidayakan karena menghasilkan telur dan daging. Padi dibudidayakan karena menghasilkan beras. Beberapa contoh tumbuhan dan hewan yang memiliki peranan penting untuk memenuhi kebutuhan pangan, perumahan, dan kesehatan, misalnya:
    1. Pangan: berbagai biji-bijian (padi, jagung, kedelai, kacang), berbagai umbi-umbian (ketela, singkong, suwek, garut, kentang), berbagai buah-buahan (pisang, nangka, mangga, jeruk, rambutan), berbagai hewan ternak (ayam, kambing, sapi).
    2. Perumahan: kayu jati, sonokeling, meranti, kamfer.
    3. Kesehatan: kunyit, kencur, temulawak, jahe, lengkuas.
    Sebagai Sumber Pendapatan

    Keanekaragaman hayati dapat dijadikan sumber pendapatan. Misalnya untuk bahan baku industri, rempah-rempah, dan perkebunan. Bahan baku industri misalnya kayu gaharu dan cendana untuk industri kosmetik, teh dan kopi untuk industri minuman, gandum dan kedelai untuk industri makanan, dan ubi kayu untuk menghasilkan alkohol. Rempah-rempah misalnya lada, vanili, cabai, bumbu dapur. Perkebunan misalnya kelapa sawit dan karet.

    Sebagai Sumber Plasma Nutfah

     Hewan, tumbuhan, dan mikroba yang saat ini belum diketahui tidak perlu dimusnahkan, karena mungkin saja di masa yang akan datang akan memiliki peranan yang sangat penting. Sebgai contoh, tanaman mimba (Azadirachta indica),. Dahulu tanaman ini hanya merupakan tanaman pagar, tetapi saat ini diketahui mengandung zat azadiktrakhtin yang memiliki peranan sebagai anti hama dan anti bakteri. Adapula jenis ganggang yang memiliki kendungan protein tinggi, yang dapat digunakan sebagai sumber makanan masa depan, misalnya Chlorella. Buah pace (mengkudu) yagn semula tidak dimanfaatkan, sekarang diketahui memiliki khasiat untuk meningkatkan kebugaran tubuh, mencegah dan mengobati penyakit tekanan darah.

    Di hutan atau lingkungan kita, masih terdapat tumbuhan dan hewan yang belum dibudidayakan, yang mungkin memiliki sifat-sifat unggul. Itulah sebabnya dikatakan bahwa hutan merupakan sumber plasma nutfah (sifat-sifat unggul). Siapa tahu kelak sifat-sifat unggul itu dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.

    Manfaat Ekologi

     Selain berfungsi untuk menunjuang kehidupan manusia, keanekaragaman hayati memiliki peranan dalam mempertahankan keberlanjutan ekosistem. Masing-masing jenis organisme memiliki peranan dalam ekosistemnya. Peranan ini tidak dapat digantikan oleh jenis yang lain. Sebagai contoh, burung hantu dan ular di ekosistem sawah merupakan pemakan tikus. Jika kedua pemangsa ini dilenyapkan oleh manusia, maka tidak ada yang mengontrol populasi tikus. Akibatnya perkembangbiakan tikus meningkat cepat dan di mana-mana terjadi hama tikus.

    Tumbuhan merupakan penghasil zat organik dan oksigen, yang dibutuhkan oleh organisme lain. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dapat membentuk humus, menyimpan air tanah, dan mencegah erosi. Keanekaragaman yang tinggi memperkokoh ekosistem. Ekosistem dengan keanekaragaman yang rendah merupakan ekosistem yang tidak stabil. Bagi manusia, keanekaragaman yang tinggi merupakan gudang sifat-sifat unggul (plasma nutfah) untuk dimanfaatkan di kemudian hari.

    Manfaat Keilmuan

    Keanekaragaman hayati merupakan lahan penelitian dan pengembangan ilmu yang sangat berguna untuk kehidupan manusia.

    Manfaat Keindahan

    Keindahan alam tidak terletak pada keseragaman tetapi pada keanekaragaman. Bayangkan bila halaman rumah kita hanya ditanami satu jenis tanaman saja, apakah indah? Tentu saja akan lebih indah apabila ditanami berbagai tanaman seperti mawar, melati, anggrek, rumput, palem.

    Kini kita sadari bahwa begitu banyak manfaat keanekaragaman hayati dalam hidup kita. Pemanfaatannya yang begitu banyak dan beragam tentu saja dapat mengancam kelestariannya. Untuk itu kita harus bijaksana dalam memanfaatkan keanekaragaman hayati, dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan aspek kelestariannya.

    Konservasi (Perlindungan) Keanekaragaman Hayati

    Konservasi keanekaragaman hayati atau biodiversitas sudah menjadi kesepakatan internasional. Objek keanekaragaman hayati yang dilindungi terutama kekayaan jenis tumbuhan (flora) dan kekayaan jenis hewan (fauna) serta mikroorganisme misalnya bakteri dan jamur. Perlu diingat bahwa yang termasuk flora tidak hanya tumbuhan yang berbunga yang sehari-hari kita lihat tetapi juga lumut dan paku-pakuan. Demikian pula dengan fauna, tidak saja mencakup binatang mamalia tetapi juga ikan, burung, dan serangga.

    Tempat perlindungan keanekaragaman hayati di Indonesia telah diresmikan oleh pemerintah. Lokasi perlindungan tersebut misalnya berupa Taman Nasional, Cagar Alam, Hutan Wisata, Taman Hutan Raya, Taman Laut, Wana Wisata, Hutan Lindung, dan Kebun Raya. Tempat-tempat tersebut memiliki makna yang berbeda-beda meskipun fungsinya sama yaitu untuk tujuan konservasi.

    Taman Nasional

    Taman nasional adalah kawasan konservasi alam dengan ciri khas tertentu baik di darat maupun di perairan. Taman nasional memiliki fungsi ganda, yaitu perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan dan perlindungan jenis tumbuhan dan hewan serta pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Taman nasional juga penting untuk ilmu pengetahuan, pendidikan, budaya, dan rekreasi alam. Biodiversitas di Indonesia yang unik dan dilindungi terutama di taman nasional. Beberapa taman nasional yang ada di Indonesia adalah sebagai berikut.

    Taman Nasional Gunung Leuseur

    Taman Nasional (TN) ini terletak di Provinsi Sumatera Utara dan Propinsi Daerah istimewa Aceh, dengan ketinggian 0 – 3.381 m di atas permukaan laut (dpl), dengan luas 1.095.192 ha. Di TN Gunung Leuseur sekurang-kurangnya ada 50 jenis anggota famili Dipterocarpaceae (meranti, keruing, kapur). Beberapa jenis buah-buahan antara lain jeruk hutan (Citrus macroptera), durian hutan (Durio exyleyanus), menteng (Baccaurea racemosa), buah limus (Mangifera foetida), rukem (Flacuoritia rukam), serta flora langka Rafflesia arnoldii var. atjehensis, dan Johannesteisjmannia altifrons (sejenis palem). Dari kelompok fauna ada 89 jenis satwa langka yang dilindungi, antara lain: gajah (Elephas maximus), beruang malaya (Ursus malayanus), harimau sumatera, badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), orangutan sumatera (Pongo pygmaeus), macan akar, burung kuda, kambing sumba, itik liar, dan tapir (Tapirus indicus).

    Taman Nasional Kerinci Seblat

    Taman Nasional ini terletak membentang di empat propinsi yaitu, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Bengkulu. Luasnya 1.484.650 ha dengan ketinggian 0-3800 m dpl.

    Jenis-jenis flora yang ada terutama famili Dipteropaceae, Leguminosae, dan Liana. Jenis flora langka yang terkenal adalah bunga bangkai (Anorhophallus titanium) dan Rafflesia arnoldii. Jenis-jenis lain adalah palem (Livistona altissima), anggrek (Bilbophyllum sp., Dendrobium sp.), pasang (Quercus), kismis (Podocarpus sp.).

    Jenis-jenis fauna di Taman Nasional ini sebanyak 36 jenis dan 24 jenis diantaranya dilindungi. Jenis-jenis satwa tersebut antara lain tapir, simpoi bangka, ungko, kelinci hutan, landak, tikus hutan, babi batang, berang-berang, badak sumatera, gajah, harimau sumatera, harimau kombang, siamang, kera ekor panjang, kancil, mucak, rusa, serta jenis-jenis burung dan reptilia.

    TN Kerinci Seblat merupakan gudang plasma nutfah di kawasan Indonesia Barat.

    Taman Nasional Bukit Barisan Selatan

    Luas kawasan ini 356.800 ha, membentang dari ujung selatan propinsi Bengkulu sampai ujung seletan propinsi Lampung.
    Kawasan ini merupakan kawasan konservasi untuk tujuan penelitian dan pendidikan karena potensi flora dan faunanya yang spesifik. Jenis-jenis flora penyusunnya adalah meranti (Shorea spp.), keruing (Dipterocarpus), pengarawang (Hopea spp.), pasang (Quercus spp), bayur (Pterospermm spp.), damar (Agathis alba), kemiri (Aleurites moluccana), dan temu-temuan (Zingiberaceae). Juga cemara gunung (Cassuarina equisetifolia), mengkudu (Morinda citrifolia) serta bunga langka yang sangat terkenal yaitu Rafflesia arnoldii.
    Jenis-jenis mamalia yang ada misalnya owa, babi, rusa, kijang, gajah, tapir, kambing hutan, kerbau liar, ajak, harimau sumatera, beruang madu, badak sumatera, macan tutul, landak, trenggiling. Jenis reptilia misalnya ular sanca, dan jenis-jenis burung misalnya rangkong, dara laut, raja udang, bangau putih, bangau tong-tong, gangsa laut.

    Taman Nasional Ujung Kulon

    Taman Nasional Ujungkulon terletak di ujung paling barat Pulau Jawa. TN ini merupakan ekosistem hutan daratan rendah di Plau Jawa. TN ini merupakan habitat terakhir dari hewan-hewan yang terancam punah, seperti badak bercula satu (Rhinoceros sundanicus), banteng (Bos sondanicus), owa jawa (Hylobathes moloch), harimau loreng (Panthera tigris), dan surili (Presbytis aygula).

    Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango

    Kawasan TN ini terletak di kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, dengan luas 15.196 ha. TN ini mewakili hutan-hutan tropis pengunungan di Jawa. Karena itu jenis-jenis ekosistemnya adalah hutan submontane (100-1500 m dpl), hutan montae (1.500-2.400 m dpl), serta subalpine (lebih dari 2.400 m dpl). Karena iklimnya lembap, maka kawasan ini didominasi oleh jenis paku-pakuan misalnya Hymmenophyllaceae, Gleishenia, Gauthenisa, dan semak Rhododendron. Pohon raksasa yang ada adalah rasamala (Altingia exelsa) yang dapat mencapai ketinggian 60 m. Bunga abadi yang tak pernah layu terdapat di zona subalpine ialah Anapalic javanica.
    Satwa yang masih ada disini adalah owa jawa yang endemik (tidak terdapat di daerah lain), surili, kera, lutung, dan macan tutul.

    Taman Nasional Kepulauan Seribu

    Terletak di Kepulauan Seribu, jumlah pulaunya 85 buah dengan luas 256 ha. Ekosistem yang unik yang dilindungi di TN ini adalah ekosistem terumbu karang.

    Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

    Luasnya 58.00 ha, terletak antara 100-3676 dpl., membentang di Kabupaten Probolinggo, Malang, pasuruan, dan lumajang, Jawa Timur.
    Jenis tumbuhan yang spesifik adalah cemara gunug.
    Jenis fauna yang dilindungi adalah babi utan, kijang, kera, ayam hutan, rusa, ajak, dan macan tutul.

    Taman Nasional Meru Betiri

    Taman Nasional yang terletak di Jember Selatan ini merupakan habitat terakhir dari harimau lorang jawa yang terancam punah. Satwa lain yang dilindungi adalah penyu karet, penyu belimbing, kancil, kijang, rangkong, dan merak. Di sini terdapat pula flora langka yang dilindungi yaitu Rafflesia zolingeri dan Balanophora fungosa.

    Taman Nasional Baluran

    Luas TN ini adalah 23.713 ha, terletak di ujung timur Pulau Jawa. TN ini merupakan contoh ekosistem daratan tendah kering, dengan musim kering yang panjang antara 4 -9 bulan. Kekayaan floranya mencapai 422 spesies. Jenis tanaman langka di kawasan ini adlah dadap biru (Erythrina eudophylla). Di TN ini juga terdapat tanaman yang tahan panas misalnya pilang, kosambi, eidoro, kemloko, asam, nimba, klampis, talok, kemiri, wungur dan laban.
    Fauna yang terdapat di TN Baluran antara lain ular piton, buaya, banteng, rusa, kerbau liar, kijang, babi hutan, ajak, macan tutul, dan linsang.

    Taman Nasional Bali Barat

    Terletak di Kabupaten Jembrana dan Buleleng, dengan luas 77.727 ha.
    TN Bali Barat merupakan habitat hutan alami murni sawo kecik (Manilkara kauki).
    Faunanya yang paling khas dan perlu dilindungi karena terancam punah adalah jalak bali putih. Fauna lain yang ada di dalam TN ini adalah menjangan, muncak, kera hitam, trenggiling, landak, penyu, pelatuk, ayam hutan dan kepodang.

    Taman Nasional Komodo

    TN Komodo terletak di Pulau Komodo, Rinca, Podan, Gilimotong dan pulau-pulau kecil lainnya, yang semuanya terletak di propinsi NTT. Kawasan ini beriklim muson dan kering, sehingga vegetasinya merupakan perwakilan Indonesia bagian timur.
    Flora yang dilindungi adalah kayu hitam (Diospyros javanica) dan bayur (Pterospermum diversifolium).
    Satwa yang khas adalah komodo, binatang purba yang hanya terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, di bagian barat Pulau Flores.

    Taman Nasional Tanjung Puting

    Luas kawasan TN Tanjung Puting adalah 305.000 ha, terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kawasan ini berada di dataran rendah dan berawa-rawa dengan iklim basah.
    Jenis tanaman yang ada di kawasan ini misalnya Gluta renghas (tanaman mengandung getah yang merusak saraf) dan durian (Durio spp.).
    Fauna yang populasinya masih banyak adalah orang utan, lutung merah, kancil, muncak, kucing hutan, musang.
    Taman Nasional Tanjung Puting merupakan pusat rehabilitasi orang utan. Rehabilitasi tersebut adalah untuk mempersiapkan orang utan senelum dilepas agar padat bertahan hidup.

    Taman Nasional Lore Lindu

    Terletak di Sulawesi Tengah, dekat dengan kota Palu, luasnya 222.178 ha, dengan ketinggian 500-2610 dpl. Tercatat ada 64 jenis flora yang diketahui dan didominasi oleh rotan (Calamus sp.) dan pinang (Pinanga sp.).
    Mamalia yang paling banyak adalah anoa (Anoa sp.) yang dilindungi. Jenis-jenis hewan endemik ada 27 jenis terutama dari famili Muridae dan Scuridae (bajing).

    Cagar Alam

    Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas tumbuhan, satwa dan ekosistem, yang perkembangannya diserahkan kepada alam.

    Hutan Wisata

    Hutan wisata adalah kawasan hutan yang karena keadaan dan sifat wilayahnya perlu dibina dan dipertahankan sebagai hutan, yang dapat

    Taman Hutan Raya (Tahura)

    Taman hutan raya adalah kawasan konservasi alam yang terutama dimanfaatkan untuk koleksi tumbuhan dan hewan, alami atau non-alami, jenis asli atau pendatang, yang berguna untuk perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan rekreasi. Tahura ini dapat disebut sebagai taman propinsi. Misalnya Pulau Sempu di Jawa Timur.

    Taman Laut

    Taman laut adalah wilayah lautan yang mempunyai ciri khas berupa keindahan alam atau keunikan alam yang ditunjuk sebagai kawasan konservasi alam, yang diperuntukkan guna meilindungi plasma nutfah lautan. Misalnya Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara.

    Wana Wisata

    Wana wisata adalah kawasan hutan yang disamping fungi utamanya sebagai hutan produksi, juga dimanfaatkan sebagai objek wisata hutan.

    Hutan Lindung

    Hutan lindung adalah kawasan hutan alam yang biasanya terletak di daerah pegunungan yang dikonservasikan untuk tujuan melindungi lahan agar tidak tererosi dan untuk mengatur tata air.

    Kebun Raya

    Kebun raya adalah kumpulan tumbuh-tumbuhan disuatu tempat, dan tumbuh-tumbuhan terseubut berasal dari berbagai daerah yang ditanam untuk tujuan konservasi, ilmu pengetahuan, dan rekreasi. Misalnya Kebun Raya Bogor dan Kebun Raya Purwodadi.
    Selain tempat-tempat yang telah disebutkan di atas yang memang ditetapkan oleh pemerintah sebagai tempat konservasi, sebenarnya masyarakat pun dapat berpartisipasi dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Bentuk pertisipasi masyarakat dalam pelestarian keanekaragaman hayati misalnya:
    1. Memperkaya koleksi tanaman di pekarangan rumah
    2. Tidak membunuh burung dan hewan-hewan lainnya
    3. Tidak membuang limbah sembarangan, terutama limbah pabrik, limbah rumah tangga, dan limbah pestisida karena dapat membahayakan kehidupan flora dan fauna.

    Tingkat Keanekaragaman Hayati

    Keanekaragaman disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan atau genetik dan faktor lingkungan. Faktor keturunan disebabkan oleh adanya gen yang akan membawa sifat dasar atau sifat bawaan. Sifat bawaan ini diwariskan turun temurun dari induk kepada keturunannya. Namun, sifat bawaan terkadang tidak muncul (tidak tampak) karena faktor lingkungan. Jika faltor bawaan sama tetapi lingkungannya berbeda, mengakibatkan sifat yang tampak menjadi berbeda. Jadi, terdapat interaksi antara faktor genetik dengan faktor lingkungan. Karena adanya dua faktor tersebut, maka muncullah keanekaragaman hayati.

    Sebagai contoh, kita tanam tanaman Hortensia secara stek ke dalam dua pot yang diberi media tanam berbeda. Karena dari tanaman stek, maka secara genetik tanaman itu sama. Gen yang terkandung di dalamnya sama. Tanaman yang ditanam pot yang diberi media tanam bersifat asam (misal diberi humus) akan menghasilkan bunga berwarna merah sedangkan yang ditanam di pot yang diberi media tanam bersifat basa (misal diberi bubuk kapur) akan menghasilkan bunga berwarna biru. Jadi perbedaan keasaman tanah dapat mengakibatkan keanekaragaman bunga Hortensia.